Kembali ke
HOME
Gaya Hidup
Elsa Febiola Aryanti
associate partner
Apabila kita melihat di sekeliling kita, masalah uang dalam kehidupan keluarga selalu menjadi masalah yang menarik untuk dibahas. Berapa uang yang harus dimiliki oleh keluarga sehingga dapat disebut cukup ? Berapa penghasilan yang dapat disebut layak ? Berapa pengeluaran keluarga yang disebut optimal ? Apakah sudah saatnya untuk membeli kendaraaan ? Bagaimana dengan biaya pendidikan anak anak ? Pertanyaaan pertanyaan tersebut adalah sebagian kecil dari hal hal yang dihadapi oleh keluarga dalam masalah mengelola keuangannya.
Sering ada atau tidak adanya permasalahan keuangan dalam keluarga dikaitkan dengan jumlah penghasilan yang dimiliki oleh keluarga tersebut. Makin tinggi penghasilan keluarga tersebut, maka makin sedikit permasalahan keuangan yang dimiliki oleh keluarga tersebut. Pertanyaannya, apakah benar demikian ?
Dalam melihat penghasilan keluarga, memang ada suatu ambang batas dimana sejumlah uang harus dimiliki untuk memenuhi kebutuhan dasar sandang, pangan dan papan dan pendidikan anak anak dalam keluarga tersebut. Kebutuhan pun dapat dibagi menjadi kebutuhan primer, sekunder dan tertier. Penghasilan minimal adalah penghasilan yang dapat memenuhi kebutuhan primer. Dalam perkembangan selanjutnya, maka dengan bertambahnya penghasilan keluarga, maka pemenuhan kebutuhan meningkat menjadi pemenuhan kebutuhan yang bersifat sekunder maupun tertier.
Tidak sedikit contoh yang kita bisa lihat di sekeliling kita, dimana jumlah penghasilan tidak berbanding lurus dengan ketiadaan permasalahan keuangan dalam keluarga. Bahkan di beberapa situasi, kedua hal tersebut malah bertolak belakang. Apa faktor penting yang dapat mensinkronkan antara penghasilan dan kesejahteraan atau tidak adanya masalah keuangan dalam keluarga ? Intinya adalah pemilihan gaya hidup.
Al-Quran menjelaskan dengan gamblang mengenai hal ini dalam salah satu ayatnya yang menyebutkan : Makan dan minumlah kamu, tetapi jangan berlebih lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih lebihan. Tidak berlebih lebihan dan sederhana menjadi hal yang sangat menentukan dalam mengatur pengeluaran keluarga dari penghasilan yang diperoleh keluarga.
Misalnya, pada saat suatu keluarga memiliki kemampuan untuk membeli kendaraan, manakah yang akan dipilih ? Kendaraan yang mereknya dapat meningkatkan prestise, ataukah kendaraan yang hemat energi, murah perawatannya, bisa diandalkan dan memiliki nilai ekonomis yang baik ? Apakah memilih kegiatan rekreasi yang mempunyai nilai ibadah dan ilmu, ataukah memilih kegiatan rekrasi yang hanya bersifat hiburan ? Apakah dalam pemilihan baju lebih mementingkan yang memenuhi syarat untuk menutup aurat dan sederhana ataukah selalu membeli barang barang yang bermerek ? Hal hal tersebut diatas akan membuat perbedaan yang besar bagi pengaturan keuangan keluarga dan apabila pilihan dibuat dengan benar, maka insya Allah akan dapat meminimalisir munculnya permasalahan permasalahan keuangan dalam keluarga.
Gaya hidup adalah pilihan yang harus dibuat secara sadar oleh keluarga karena dampaknya adalah pada keuangan keluarga dan kemampuan keluarga tersebut untuk merencanakan keuangan keluarga dalam jangka panjang. Tuntunan dalam Islam sudah jelas untuk masalah gaya hidup ini : tidak berlebih lebihan. Mudah mudahan kita dapat meresapi, mencermati dan melaksanakan tuntunan yang mulia ini. Insya Allah.
Mencegah Lebih Baik Dari Mengobati :
Menjaga Kesehatan Finansial Anda
Salah satu fungsi dari melakukan perencanaan keuangan adalah untuk mengantisipasi hal hal keuangan dalam keluarga. Dalam perencanaan keluarga, keluarga dapat membuat perencanaan arus kas keluarga selama periode misalnya 1 tahun. Dari rencana arus kas tersebut keluarga dapat mengetahui kewajiban / kebutuhan keuangan yang akan jatuh tempo pada bulan bulan yang akan datang dan jumlah nomonalnya. Kebutuhan / kewajiban ini dapat direncakan jauh jauh hari sebelumnya.
Apabila dianalogikan dengan kesehatan, maka perencanaan keuangan juga dapat dipandang sebagai tindakan pencegahan dan pemeliharaan agar kesehatan keuangan keluarga tetap terjaga. Ada beberapa contoh fungsi pencegahan yang dapat dijalankan oleh perencanaan keuangan bagi individu atau keluarga :
1.Menjaga tingkat pembelanjaan dan pengeluaran
Setelah pendapatan didapatkan, dikeluarkan pajak dan zakatnya, maka perencanaan keuangan yang pertama dilakukan adalah menyisihkan untuk tabungan. Setelah itu barulah sisanya digunakan untuk konsumsi. Dengan melakukan mekanisme ini, maka pengeluaran akan dengan sendirinya terjaga karena akan dicukupkan dengan alokasi yang ada. Tingkat pembelanjaan terjaga dengan baik.
2.Menghindari adanya kebutuhan mendadak yang sebenarnya bukan mendadak
Perencanaan keuangan menghindarkan keluarga dari kekagetan karena pengeluaran yang dipandang mendadak. Kebutuhan mendadak memang sering terjadi, tetapi itu lebih berupa biaya karena adanya musibah atau hal hal yang tidak diinginkan. Biaya seperti biaya sekolah anak dan biaya mudik misalnya, tidaklah dapat dipandang sebagai biaya mendadak tak terduga, karena terjadi setiap tahun secara periodik. Gunanya perencanaan keuangan keluarga adalah untuk mengantisipasi pengeluaran pengeluaran untuk kebutuhan, sehingga tidak ada lagi kesan bahwa semua kebutuhan adalah mendadak, padahal apabila ditinjau lebih jauh, kebutuhan tersebut sangat mungkin untuk direncanakan.
3.Mendorong pemikiran yang matang dalam keputusan keputusan finansial
Dewasa ini, sebagai konsumen dan nasabah, kita seperti dibombardir oleh banyaknya tawaran, terutama untuk yang bersifat konsumsi. Guna menghadapi banyaknya pilihan pilihan tersebut dan agar kita selalu dapat melakukan keputusan keputusan finansial yang benar, maka peran dari perencanaan keuangan adalah untuk memberikan batasan dan panduan bagi keputusan keputusan finansial kita. Misalnya, apabila dari catatan asset dan kewajiban ternyata kita hanya memiliki porsi kekayaan bersih yang masih kecil, maka seyogyanya kita tidak membuat komitment untuk menambah jumlah hutang atau kewajiban. Kemudian apabila dari alokasi pendapatan kita, ternyata porsi cicilan sebesar 30 persen telah penuh, maka hal tersebut mengindikasikan kalau kita memang belum memiliki kemampuan untuk menambah porsi hutang.
Pencegahan terhadap hal hal yang akan mengganggu keseimbangan finansial individu dan keluarga, penting untuk dilakukan karena upaya pencegahan tersebut lebih mudah dan murah untuk dilakukan. Apabila suatu keputusan finansial sudah terlanjur diambil tidak dengan pertimbangan yang matang, maka biasanya diperlukan waktu untuk penanggulangannya dan seringkali penanggulangan itu juga membawa konsekuensi kerugian secara finansial. Mari kita jaga kesehatan keuangan keluarga kita, dengan secara disiplin melakukan upaya upaya pencegahan permasalahan finansial kita melalui praktek praktek perencanaan keuangan.
Menyederhanakan Pengeluaran
Pada keluarga yang menunaikan zakat setelah mengurangi pendapatan dengan pengeluaran pengeluran rutinnya, maka menyederhanakan pengeluaran merupakan hal yang tidak bisa ditawar tawar lagi. Pengeluaran pengeluaran yang kurang cermat dengan sendirinya akan mengurangi jumlah penghasilan yang dapat dizakatkan. Akhirnya, zakat menjadi kurang optimal dan bukan tidak mungkin menjadi terasa berat.
Hal pertama yang harus diingat dalam mengupayakan menyederhanakan pengeluaran adalah menyadari bahwa kebaikan di dunia harus berjalan seiring dengan kebaikan di akhirat. Prinsip keseimbangan ini yang menjadi dasar bagi langkah penyederhanaan pengeluaran
Usahakan pula untuk melihat gambaran keadaan keuangan anda secara lebih menyeluruh dan dalam rentang waktu yang lebih panjang. Mungkin saja anak anda harus masuk sekolah 3 tahun dari sekarang, atau anda merencanakan untuk mulai mencicil rumah tinggal 2 tahun dari sekarang. Lebih jauh lagi, bagaimana anda ingin pensiun di hari tua nanti. Gambaran yang lebih menyeluruh dan berjangka waktu panjang akan membantu anda untuk bisa memprioritaskan keinginan dan keperluan anda.
Salah satu hal praktis yang sering terlupakan adalah kesadaran untuk tidak membeli barang atau jasa apabila memang anda belum mempunyai cukup uang untuk membayarnya. Terkecuali bagi hal hal yang bersifat darurat, usahakan untuk belajar menunda pembelian. Dengan demikian, sedikit demi sedikit anda akan dapat hidup sesuai dengan kemampuan anda.
Meminjam uang, baik dari keluarga maupun pihak lain sedapat mungkin dihindari. Uang pinjaman akan menciptakan ilusi akan kemampuan keuangan anda. Apalagi kalau uang pinjaman tersebut dipergunakan untuk hal hal yang bersifat konsumsi. Lambat laun pinjaman / hutang akan bertumpuk.
Hal lain yang perlu untuk diperhatikan adalah jangan menggunakan kegiatan berbelanja sebagai hiburan apabila sedang mengalami masalah. Kembalilah kepada kesadaran bahwa harta dan uang adalah titipan Allah. Masalah keuangan keluarga bukan hanya masalah tambah kurang dan hitung menghitung saja. Mintalah tuntunan Allah dalam doa dan ibadah kita, semoga kita dapat menjadi hambaNya yang mampu untuk mengemban amanah. Insya Allah.